Menggali khazanah keilmuan KH Shihabudin Tahmid Jagalempeni-Wanasari, Santri KH Hasyim Asyari

By Admin NU Brebes 17 Jun 2023, 19:22:23 WIB Tokoh
Menggali khazanah keilmuan KH Shihabudin Tahmid Jagalempeni-Wanasari, Santri KH Hasyim Asyari

Keterangan Gambar : KH Shihabudin Tahmid Jagalempeni-Wanasari (Foto: Dok Pribadi)


Menggali khazanah keilmuan KH Shihabudin Tahmid Jagalempeni-Wanasari, Santri Kesayangan KH Hasyim Asy’ari

 

Al Maghfurlah KH Sihabudin Tahmid merupakan santri kesayangan dari Hadratussyaikh Mbah KH Hasyim Asy'ari (Pendiri NU) dari Desa Jagalempeni Kecamatan Wanasari Kabupaten Brebes. Beliau sebagai seorang santri yang alim di bidang fiqih dan tentu tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal memaparkan hukum (yurisprudensi) Islam dihadapan publik atau masyarakat. Misalnya dalam forum pengajian umum, pengajian rutin dan bahtsul masail, Kyai Tahmid warga sekitar menyebutnya sering memaparkan fiqih yang bersumber dari kitab-kitab yg sudah mu'tabar. Sehingga karena kealiman fiqih sehingga beliau diangkat sebagai Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Brebes yang pada waktu itu mewakili Bahtsul Masail saat perhelatan Muktamar NU ke-29 yang digelar 1-5 Desember 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Baca Lainnya :

 

Namun dibalik alim Fiqih Beliau dengan tawadlunya masih mau ngaji Qur’an dengan Kyai Syamsuri Al-Khafidz (Ayahnya Al-Magfurlah KH Asmuni Sjamsuri, Pengasuh PP As Syamsuriyyah Jagalempeni). Tentu itu bukan berarti Kyai Tahmid kurang fasih membaca Quran, namun dalam berguru ada perintah cari guru sebanyak-banyaknya. Mengaji Qur an harus dengan guru. KH Sihabudin Tahmid ketika mondok di pesantren Tebuireng sudah ngaji Qur’an, tapi secara khusus tidak pada tahapan untuk dihafalkan. Beliau lebih menggeluti pada bidang kajian Fiqih dan Tafsir . Berbeda dengan Kyai Syamsuri yang sejak di pesantren mendalami ilmu qiraat serta menghafal Al-Qur'an. Sehingga keluarga Kyai Sjamsuri dijuluki sebagai keluarga Qur’an bersama Istri Beliau ‘Dhe Merah’ panggilan Nyai Khumeroh.

 

Tentunya apa yang dilakukan oleh KH Sihabudin ngaji Qur’an kepada Kyai Sjamsuri juga dilakukan oleh beberapa kyai-kyai Lirboyo yang ngaji Qur’an kepada KH Maftuh Al Khafidz, juga beberapa kyai di pesantren lainya. Hanya saja sebagian kecil santri yang mengetahui proses ngaji Quran kyai dengan kyai untuk memperbanyak sanad Quran. Jadi sekalipun sudah sepuh tetapi beliau selalau menyempatkan waktu untuk ngaji Al-Quran kepada Kyai Sjamsuri Hal ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad Saw, ‘’tuntutlah ilmu sampai dengan liang lahat’’. Pepatah barat mengatakan,"long life education" belajar sepanjang hayat.

Setelah KH Sihabudin selesai ngaji Quran sebaliknya Kyai Sjamsuri Al Khafid ngaji kitab Tafsir Jalalain kepada Beliau. Kitab yg dikarang oleh Syekh Jalaluddin As Suyuti dan Syekh Jalaluddin Al Mahali diterangkan secara terperinci oleh Kyai Tahmid. Sesekali muncul pertanyaan dari Kyai Sjamsuri tentang ayat yang berhubungan dengan hukum (Fiqih) lalu Kyai Tahmid menjawab dengan menambahkan ibarat dari kitab-kitab Fiqih termasuk diantaranya Kitab Fathul Mu'in, Fathul Wahab dan Fathul Qorib. Kegiatan ini menurut penuturan saksi yang masih hidup dilaksanakan pada malam hari di atas jam 22.00 WIB. Terkadang selesainya sampai dini hari.

 

…………………………………………………………………………………………………..

Sholat adalah ibadah pokok bagi setiap manusia yang pertama kali besok akan dihisab pada hari kiamat. Karena itu sholat tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan apapun. Sampai dalam fisik tidak bisa apa-apa (hanya bisa bernafas), maka ia wajib sholat dengan hati.

 

Namun demikian mengingat keterbatasan pendidikan agama untuk anak-anak yang baru pertama baligh, akhirnya antara usia baligh (dewasa secara fiqih) sampai usia menjelang nikah tidak memperhatikan sholat. Bahkan saat sudah berkeluarga juga tidak jarang orang yang meninggalkan sholat dengan berbagai alasan. KH Sihabudin dalam berbagai kesempatan ceramah dihadapan masyarakat menyampaikan pentingnya fidyah sholat dan puasa bagi orang yang meninggal. Beberapa dalil kitab Fiqih Beliau sampaikan dalam forum tersebut.

 

Sebelum pelaksanaan 40 hari dari kematian mayit keluarga ahli waris mempersiapkan beras untuk fidyah dengan ukuran tertentu sesuai dengan kemampuan. Salah satu ahli waris sowan kepada Beliau untuk membagikan fidyah. Dalam proses penyerahan fidyah sebelumnya dihitung kira kira berapa tahun sholat yang ditinggalkan dan berapa bulan puasa yang ditinggalkan. Setelah ketemu hitungan tersebut selanjutnya beras yang ada kira kira cukup berapa tahun untuk diberikan kepada beberapa penerima ( Mustahik ). Setelah selesai serah terima selanjutnya berdoa bersama dikirimkan kepada Al marhum yang difidyahi.

 

Ketentuan fidyah ini didasarkan pada keterangan Imam Al Buwaiti yang menukil dari Imam Syafi'i. Dalam Kitab Majmu , Imam Buwaiti berkata, tidak jauh untuk memberlakukan hal ini ( meninggalkan itikaf dan puasa yang diganti dg fidyah ) dalam hal sholat, maka pihak ahli waris memberi makanan ( fidyah ) satu mud untuk setiap sholat ( Majmu ala Syarah Muhadzab juz 6 hal 372).

 

Disamping ibarat tersebut, sebagaimana tersebut dalam kitab Fathul Muin. Menurut pendapat lain, yang diikuti oleh banyak ulama madzhab Syafi'i, bahwa ahli waris memberi makanan satu mud pada setiap sholat (yang ditinggalkan). Dalam kitab Fiqih dijelaskan, madzhab Ahlussunah wal jamaah berpandangan seseorang bisa menjadikan pahala amal dan sholatnya untuk orang lain dan pahala tersebut sampai padanya. ( Fathul Mu'in juz 2 hal 276 )

Dengan pijakan ibarat tersebut, KH Sihabudin sering secara langsung memimpin pembagian fidyah dengan melibatkan ustadz setempat ( lingkungan orang yang meninggal ) .

Tradisi tersebut berjalan sampai sekarang yang dipraktekkan oleh Kyai atau Ustad setempat dengan kalimat yang sama. Salah satunya yang dipraktekkan oleh Kyai Hasan Bisri Jagalempeni. Sebelum beliau menerima fidyah dari ahli waris, terlebih dahulu memberikan muqodimah pengantar. Dalam pengantar tersebut, pasti disampaikan bahwa lafal dalam aqad fidyah diterima dari KH Sihabudin Tahmid secara mutasil. (Wallahu A'lam Bis Showwab)

 

*Tulisan sebelumnya pernah dimuat di Ritizen Republika.co.id


Oleh : H Akhmad Sururi, S.Pd.I (Wakil Ketua LTN NU Brebes)

Editor: A’isy Hanif Firdaus




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment