Menggali khazanah keilmuan KH Shihabudin Tahmid Jagalempeni-Wanasari, Santri KH Hasyim Asyari

Keterangan Gambar : KH Shihabudin Tahmid Jagalempeni-Wanasari (Foto: Dok Pribadi)
Menggali khazanah keilmuan KH Shihabudin
Tahmid Jagalempeni-Wanasari, Santri Kesayangan KH Hasyim Asy’ari
Al Maghfurlah KH Sihabudin Tahmid merupakan santri kesayangan dari
Hadratussyaikh Mbah KH Hasyim Asy'ari (Pendiri NU) dari Desa Jagalempeni Kecamatan
Wanasari Kabupaten Brebes. Beliau sebagai seorang santri yang alim di bidang
fiqih dan tentu tidak diragukan lagi kemampuannya dalam hal memaparkan hukum (yurisprudensi)
Islam dihadapan publik atau masyarakat. Misalnya dalam
forum pengajian umum, pengajian rutin dan bahtsul masail, Kyai Tahmid warga sekitar menyebutnya sering memaparkan fiqih yang bersumber dari
kitab-kitab yg sudah mu'tabar. Sehingga karena kealiman fiqih sehingga beliau
diangkat sebagai Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten
Brebes yang pada waktu itu mewakili Bahtsul Masail saat perhelatan Muktamar NU ke-29 yang
digelar 1-5 Desember 1994 di Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Baca Lainnya :
- Pentingnya Mengedepankan Akhlakul Karimah Bagi Santri0
- Nahdliyin Brebes Siap Menghadapi Pemilu 20240
- NU Bulakamba Gelar silatcam kader penggerak NU sekaligus pelantikan pengurus MWCNU dan PRNU0
- Menggerakan perangkat organisasi sampai tingkat PRNU dan Anak Ranting NU0
- Sujud Sebagai Wujud Rasa Syukur dan Upaya Meraih Kemudahan Yang Dikehendaki0
Namun dibalik alim Fiqih Beliau dengan tawadlunya masih mau ngaji
Qur’an dengan Kyai Syamsuri Al-Khafidz (Ayahnya Al-Magfurlah KH Asmuni Sjamsuri,
Pengasuh PP As Syamsuriyyah Jagalempeni). Tentu itu bukan berarti
Kyai Tahmid kurang fasih membaca Qur’an, namun dalam berguru ada
perintah cari guru sebanyak-banyaknya. Mengaji Qur an harus dengan guru. KH
Sihabudin Tahmid ketika mondok di pesantren Tebuireng sudah ngaji Qur’an, tapi
secara khusus tidak pada tahapan untuk dihafalkan. Beliau lebih menggeluti pada
bidang
kajian Fiqih dan Tafsir . Berbeda dengan Kyai Syamsuri
yang sejak di pesantren mendalami ilmu qiraat serta menghafal
Al-Qur'an. Sehingga keluarga Kyai Sjamsuri dijuluki sebagai keluarga Qur’an
bersama Istri Beliau ‘Dhe Merah’ panggilan Nyai Khumeroh.
Tentunya apa yang dilakukan oleh KH Sihabudin ngaji Qur’an kepada
Kyai Sjamsuri juga dilakukan oleh beberapa kyai-kyai Lirboyo yang ngaji Qur’an
kepada KH Maftuh Al Khafidz, juga beberapa kyai di pesantren lainya. Hanya saja
sebagian kecil santri yang mengetahui proses ngaji Qur’an kyai dengan kyai untuk
memperbanyak sanad Qur’an. Jadi sekalipun sudah sepuh tetapi beliau selalau menyempatkan waktu untuk ngaji Al-Qur’an kepada Kyai
Sjamsuri Hal ini sejalan dengan hadis Nabi Muhammad Saw, ‘’tuntutlah ilmu
sampai dengan liang lahat’’. Pepatah barat mengatakan,"long
life education" belajar sepanjang hayat.
Setelah KH Sihabudin selesai ngaji Quran sebaliknya Kyai Sjamsuri
Al Khafid ngaji kitab Tafsir Jalalain kepada Beliau. Kitab yg dikarang oleh
Syekh Jalaluddin As Suyuti dan Syekh Jalaluddin Al Mahali diterangkan secara
terperinci oleh Kyai Tahmid. Sesekali muncul pertanyaan dari Kyai Sjamsuri
tentang ayat yang berhubungan dengan hukum (Fiqih) lalu Kyai Tahmid menjawab dengan
menambahkan ibarat dari kitab-kitab Fiqih termasuk diantaranya Kitab Fathul
Mu'in, Fathul Wahab dan Fathul Qorib. Kegiatan ini menurut penuturan saksi yang
masih hidup dilaksanakan pada malam hari di atas jam 22.00 WIB. Terkadang
selesainya sampai dini hari.
…………………………………………………………………………………………………..
Sholat adalah ibadah pokok bagi setiap manusia yang pertama kali
besok akan dihisab pada hari kiamat. Karena itu sholat tidak boleh ditinggalkan
dalam keadaan apapun. Sampai dalam fisik tidak bisa apa-apa (hanya bisa
bernafas), maka ia wajib sholat dengan hati.
Namun demikian mengingat keterbatasan pendidikan agama untuk anak-anak yang baru
pertama baligh, akhirnya antara usia baligh (dewasa secara fiqih) sampai
usia menjelang nikah tidak memperhatikan sholat. Bahkan saat sudah berkeluarga
juga tidak jarang orang yang meninggalkan sholat dengan berbagai alasan. KH
Sihabudin dalam berbagai kesempatan ceramah dihadapan masyarakat menyampaikan
pentingnya fidyah sholat dan puasa bagi orang yang meninggal. Beberapa dalil
kitab Fiqih Beliau sampaikan dalam forum tersebut.
Sebelum pelaksanaan 40 hari dari kematian mayit keluarga ahli waris
mempersiapkan beras untuk fidyah dengan ukuran tertentu sesuai dengan
kemampuan. Salah satu ahli waris sowan kepada Beliau untuk membagikan fidyah. Dalam
proses penyerahan fidyah sebelumnya dihitung kira kira berapa tahun sholat yang
ditinggalkan dan berapa bulan puasa yang ditinggalkan. Setelah ketemu hitungan
tersebut selanjutnya beras yang ada kira kira cukup berapa tahun untuk
diberikan kepada beberapa penerima ( Mustahik ). Setelah selesai serah terima
selanjutnya berdoa bersama dikirimkan kepada Al marhum yang difidyahi.
Ketentuan fidyah ini didasarkan pada keterangan Imam Al Buwaiti
yang menukil dari Imam Syafi'i. Dalam Kitab Majmu , Imam Buwaiti berkata, tidak
jauh untuk memberlakukan hal ini ( meninggalkan itikaf dan puasa yang diganti
dg fidyah ) dalam hal sholat, maka pihak ahli waris memberi makanan ( fidyah )
satu mud untuk setiap sholat ( Majmu ala Syarah Muhadzab juz 6 hal 372).
Disamping ibarat tersebut, sebagaimana tersebut dalam kitab Fathul
Muin. Menurut pendapat lain, yang diikuti oleh banyak ulama madzhab Syafi'i,
bahwa ahli waris memberi makanan satu mud pada setiap sholat (yang ditinggalkan).
Dalam kitab Fiqih dijelaskan, madzhab Ahlussunah wal jamaah berpandangan
seseorang bisa menjadikan pahala amal dan sholatnya untuk orang lain dan pahala
tersebut sampai padanya. ( Fathul Mu'in juz 2 hal 276 )
Dengan pijakan ibarat tersebut, KH Sihabudin sering secara langsung
memimpin pembagian fidyah dengan melibatkan ustadz setempat ( lingkungan orang
yang meninggal ) .
Tradisi tersebut berjalan sampai sekarang yang dipraktekkan oleh
Kyai atau Ustad setempat dengan kalimat yang sama. Salah satunya
yang dipraktekkan oleh Kyai Hasan Bisri Jagalempeni. Sebelum beliau menerima
fidyah dari ahli waris, terlebih dahulu memberikan muqodimah pengantar. Dalam
pengantar tersebut, pasti disampaikan bahwa lafal dalam aqad fidyah diterima
dari KH Sihabudin Tahmid secara mutasil. (Wallahu A'lam Bis Showwab)
*Tulisan sebelumnya pernah dimuat di Ritizen Republika.co.id
Oleh : H Akhmad Sururi, S.Pd.I (Wakil Ketua LTN NU Brebes)
Editor: A’isy Hanif Firdaus
