Sujud Sebagai Wujud Rasa Syukur dan Upaya Meraih Kemudahan Yang Dikehendaki

By Admin NU Brebes 09 Jun 2023, 17:20:38 WIB Dunia Islam
Sujud Sebagai Wujud Rasa Syukur dan  Upaya Meraih Kemudahan Yang Dikehendaki

Manusia yang mau bersujud merupakan sebuah keharusan dan  harus dipaksaan kalau tidak mau bersujud. Sujud sebagai  bentuk yang membedakan hamba yang taat seperti malaikat dan hamba durhaka  Iblis laknatullah. Sehingga sujud sebagai salah satu untuk menghindari akan sifat sombong. Secara harfiah perilaku sujud dengan meletakkan kepala di atas tanah yang menjadi tempat terendah. Hal ini mengandung maksud perlambangan bagi semua makhluk ciptaan Allah SWT tak boleh ada yang sombong.

Imam Al-Ghazali memaknai sujud sebagai ibadah istimewa yang menghapus “jarak” Allah SWT dan hamba-Nya. Sujud dianalogikan sebagai lorong waktu dan tempat yang “mendekatkan” Allah Subhanahu Wa Taala (Yang Maha Suci dari tempat dan waktu) dan hamba-Nya. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Imam Muslim, Rasulullah Saw bersabda: “Kalian harus memperbanyak sujud kepada Allah SWT Ketika kalian bersujud, Allah Subhanahu Wa Taala akan angkat derajat kalian, dan Allah Swt akan menghapus satu dosa kalian.”

Ada Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah Sallahu Alaihi Wassalam bersabda:

Baca Lainnya :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ فَأَكْثِرُوا الدُّعَاء

 

Artinya, “Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Momentum terdekat seorang hamba dan Tuhannya adalah ketika sujud. Oleh karena itu, perbanyaklah doa saat itu," (HR Muslim, Abu Dawud, An-Nasa’i).

 

Sujud sebagai ungkapan rasa syukur tertinggi bagi seorang hamba, sebagai wujud pengakuan akan segala nikmat yang didapat datang dari Allah SWT.

Sujud pada sholat juga sebagai wujud kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT menempelkan dahinya di tempat yang paling rendah dan menjadi salah satu bentuk ketaatan paling nyata kepada Allah SWT.

Kekhusuan sujud itu sendiri sangat terasa nikmat kalau saja dilakukan dengan menyatunya hati, pikiran, dan fisik bersimpuh di hadapan Allah SWT dengan penuh rasa cinta dan syukur kepada-Nya. Sesungguhnya Allah SWT menegaskan tentang sujud, sebagai firman-Nya dalam Surat  al-Alaq ayat 19 :

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب ۩

            Artinya: Sekali-kali jangan, janganlah kamu patuh kepadanya; dan sujudlah dan    dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).

Sujud  menjadi pernyataan, tekad, janji dan komitmen pada diri untuk mengisi jatah umur yang ada dengan kerja-kerja produktif dan bermakna. Sujud dalam hal ini sebagai niat, bahasa ikrar dan kebulatan tekad, menyatukan antara doa dan kerja. Perilaku sujud yang dilakukan tidak hanya berbentuk fisik semata, kepala berada di lantai, namun disertai dengan berserah kepada Allah SWT atas segala masalah dan keinginan yang hendak capai.

Ada beberapa keistimewaan dan hikmah sujud yan didapatkan diantaranya, sebagai berikut:

Pertama, Ibadah sholat menjadi istimewa, tidak heran kalau Rasulullah SAW menjadikan ibadah shalat sebagai puncak kesenangan dan kebahagiannya, sebagaimana sabda Rasulullah  SAW "Shalat sebagai kesenangannya karena shalat menjadi penyambung dirinya dan Allah SWT momentum munajat, dan jalan pengangkatan derajat."

Kedua, Hikmah sujud untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan mendapatkan suatu kenikmatan, terhindar dari bahaya, atau mendapatkan suatu berita yang menggembirakan.  Sujud menjadi tanda orang yang bersyukur atas nikmat Allah SWT yang diberikan.

Ketiga, Bekas sujud menjadi identitas diri,  karena Rasulullah mengenal umatnya pada Hari Kiamat kelak melalui bekas sujud. Sebagaimana Rasulullah bersabda:

ما من أمتي من أحد إلا وأنا أعرفه يوم القيامة قالوا: وكيف تعرفهم يا رسول الله في كثرة الخلائق، قال: أرأيت لو دخلت صبرة فيها خيل دهم بهم وفيها فرس أغر محجل أما كنت تعرفه فيها؟ قال: بلى، قال: «فإن أمتي يومئذ غر من السجود محجلون من الوضو

Artinya: "Tidak ada seorang pun dari umatku, kecuali aku mengenalnya nanti pada hari Kiamat." Para sahabat bertanya, "Bagaimana engkau mengenal mereka wahai Rasulullah, mereka berada di antara banyak makhluk?" Beliau menjawab: "Bagaimana pendapatmu jika engkau masuk dalam shirath" di dalamnya terdapat kumpulan kuda berwarna hitam, dan dalam kumpulan itu terdapat seekor kuda yang memiliki ghurrah (wama putih cerah di dahinya) dan muhajjal (berkaki putih), bukankah kamu dapat mengenalinya?" Sahabat itu menjawab, "Ya". Lalu beliau bersabda, "Sungguh, umatku pada hari itu mempunyai wajah yang putih karena sujud, serta anggota wudhu yang putih karena wudhu.'" (HR Ahmad).

Keempat, Sujud untuk mengangkat derajat seseorang, dari Ubadah bin Shamit, dia mendengar Rasulullah bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، وَمَحَا عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً، وَرَفَعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةً، فَاسْتَكْثِرُوا مِنْ السُّجُودِ"

"Tidaklah seorang hamba melakukan sujud sekali kepada Allah, kecuali Allah akan menuliskan baginya satu kebaikan, menghapus satu keburukan, dan mengangkatnya satu derajat. Oleh sebab itu perbanyaklah melakukan sujud." (HR Ibnu Majah)

Lima, Memperbanyak sujud akan menemani Rasulullah di surga. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim:

عن ربيعة بن كعب الأسلمي رضي الله عنه: (كنت أبيتُ مع رسول الله صلى الله عليه وسلم فأتيتُه بوَضوئِه وحاجته: فقال لي: سلْ، فقلتُ: أسألُك مرافقتَك في الجنة، قال صلى الله عليه وسلم: أو غير ذلك؟ قلت: هو ذاك، قال: فأعنِّي على نفسِك بكثرة السجود) 

Diceritakan seorang sahabat Nabi Saw bernama Rabi'ah bin Ka'b Al-Aslami yang bermalam di rumah Rasulullah Saw, lalu menghampiri beliau Saw dengan membawa air wudhu. Kemudian Nabi Saw berkata, "Mintalah sesuatu." Lalu Rabi'ah menjawab, "Aku ingin menemanimu di Surga." Rasulullah bertanya lagi, "Ada permintaan selain itu?" Rabiah mengatakan lagi, "Itu yang aku minta." Nabi Muhammad SAW kemudian bersabda, "Bantulah aku mewujudkan keinginanmu dengan memperbanyak sujud (sholat)."

Enam, Setan takut pada Muslim yang sujud  setelah membaca ayat sajadah. Rasulullah SAW bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال:  قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذا قَرَأَ ابنُ آدَمَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ اعْتَزَلَ الشَّيْطانُ يَبْكِي، يقولُ: يا ويْلَهُ، وفي رِوايَةِ أبِي كُرَيْبٍ: يا ويْلِي، أُمِرَ ابنُ آدَمَ بالسُّجُودِ فَسَجَدَ فَلَهُ الجَنَّةُ، وأُمِرْتُ بالسُّجُودِ فأبَيْتُ فَلِيَ النَّارُ. وفي رواية: فَعَصَيْتُ فَلِيَ النَّارُ 

Artinya:“Jika anak Adam membaca ayat sajdah, lalu dia sujud maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata: celakalah aku. Di dalam riwayat Abu Kuraibin: celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan bersujud, namun aku enggan sehingga aku pantas menjadi penghuni neraka.”  (HR Muslim)

Mudah-mudahan tulisan ini dapat menjadikan nalar fikir dan kejernihan hati, merutinkan aktivitas sujud dengan terus menerus untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.  Dengan aktivitas sujud ini pula mudah-mudahan semakin mudah capain yang dikehandaki, menjadi lahan bercocok tanam dan akhirat menjadi tempat menuainya. Aamiiin..

Penulis : H Lukman Nur Hakim  (Ketua LTN NU PCNU Brebes)

Editor : A’isy Hanif Firdaus 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment