Pentingnya Mengedepankan Akhlakul Karimah Bagi Santri

Keterangan Gambar : (Foto: Dokumen Pribadi)
Kehidupan dunia menuntut manusia melakukan aktivitas, baik aktivitas secara pribadi, kepada sesama manusia atau kepada sang pencipta (Allah SWT). Hal tersebut tentunya akan membawa dampak positif, khususnya bagi para santri yang sedang menuntut ilmu-ilmu agama Islam, ilmu yang bermanfaat menjadi doa sepanjang masa bagi seorang santri yang sedang giat menimba ilmu dengan guru atau kiai, besar harapan ilmu yang sudah diperolehnya (santri) kemudian dapat diimplementasikan dalam sikap dan perilakunya.
Secara nilai substansi dalam ajaran agama Islam akhlakul karimah secara menyeluruh akan bermuara kepada sikap dan prilaku bagi yang melaksanakannya, khususnya para santri dan umat Islam pada umumnya. Agama Islam dijadikan sebagai pedoman dan petunjuk sebagaimana cahaya yang menjadi sinar dalam gelap gulita, Proses yang dilalui oleh para santri dalam hal menuntut ilmu di pondok pesantren seyogyanya akan dapat menghasilkan ilmu dengan diamalkan dalam kehidupannya, sehingga akan melahirkan sikap dan perilaku yang baik ketika sudah hidup bermasyarakat.
Baca Lainnya :
- Nahdliyin Brebes Siap Menghadapi Pemilu 20240
- NU Bulakamba Gelar silatcam kader penggerak NU sekaligus pelantikan pengurus MWCNU dan PRNU0
- Menggerakan perangkat organisasi sampai tingkat PRNU dan Anak Ranting NU0
- Sujud Sebagai Wujud Rasa Syukur dan Upaya Meraih Kemudahan Yang Dikehendaki0
- Calon Jamaah Haji Kabupaten Brebes diberangkatkan ke tanah suci dengan terbagi 4 Kloter0
Sikap dan perilaku yang baik dapat dikiaskan seperti halnya bak layaknya sebuah perhiasan, siapa saja yang melihatnya pasti akan terpesona dengan keindahan pancaran perhiasan itu, begitu juga agama Islam yang selalu mengajarkan sikap dan perilaku yang baik, lemah lembut, santun sebagaimana menjadi sarana dakwahnya Rosulullah SAW. Syekh Muhammad Syakir al-Iskandari berkata :
الخلق الحسن زينة الانسان فى نفسه وبين اخوانه واهله وعشيرته فكن حسن الخلق يحترمك الناس ويحبوك
Artinya : “Budi Pekerti/Akhlak yang baik itu menjadi perhiasan manusia, bagi dirinya sendiri, diantara sudara-saudaranya, keluarganya dan teman pergaulannya, maka jadikanlah (kamu) orang yang memiliki budi pekerti/akhlak baik, niscaya kamu akan dimuliakan dan di cintai oleh manusia.’’
Nasihat Syekh Muhammad Syakir al-Iskandari senada dengan Hadist Rasulullah SAW :
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ان الله استخلص هذ الدين لنفسه ولايصلح لدينكم الا السحاء وحسن الخلق الآ فزينوادينكم بهما
Artinya : “ Sesungguhnya Allah SWT sudah membersihkan agama ini (Islam) karena dzatnya, dan tidak sepantasnya (manusia membersihkan) terhadap agama kalian, kecuali bersikap murah hati dan bersikap baik, ingatlah kamu!, hiasilah agama kalian (Islam) dengan keduanya (bersikap murah hati dan berbuat baik)
Secara umum, santri merupakan sebutan bagi seseorang yang sedang dan mendalami mengikuti pendidikan agama Islam di pondok pesantren. Santri biasanya menetap di tempat tersebut hingga pendidikannya selesai. Biasanya, santri setelah menyelesaikan masa belajarnya di pesantren, mereka akan mengabdi ke pesantren dengan menjadi pengurus.
Kembali kepembahasan Akhlaqul karimah ini menjadi jati diri sekaligus identitas yang melekat pada diri santri yang mana hal tersebut merupakan hasil pembelajaran santri di pesantren dan telah menjadi pribadi, dan mewujud nyata dalam perilaku kehidupan sehari-harinya. Akhlakul Karimah atau sering disebut dengan akhlak yang terpuji merupakan salah satu golongan macam akhlak yang harus dimiliki bagi setiap umat muslim. Adapun contoh macam akhlakul karimah tersebut diantarannya sikap rela berkorban, jujur, sopan, santun, tawakal, adil, sabar dan lain sebagainya.
Dalam khazanah dunia pesantren ada baiknya kita menengok kembali kebelakang, dengan berupaya menapaki jalan-jalan yang ditempuh oleh guru-guru tradisional pada zaman dahulu. Beliau-beliau berhasil melahirkan generasi yang memiliki akhlakul karimah diatas keterbatasan sarana dan prasarana yang dimilikinya. Dengan mengkaji “Kitab taklim muta'alim adalah kitab dasar untuk pendidikan karakter aklakul karimah bagi santri di pondok pesantren sehingga mereka benar-benar menghormati dan tawadhu kepada Guru dan Orang Tua. Alasan diatas itullah yang menjadi dasar untuk mengkaji kembali kitab tradisional tersebut sebagai salah satu referensi untu mencetak generasi yang berkarakter dan berakhlakul karimah.
Sosok teladan bagi kita semua yaitu Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW adalah seorang yang kuat imannya, berani, sabar, dan tabah menghadapi segala macam cobaan, percaya sepenuhnya kepada segala ketentuan Allah, dan mempunyai akhlak yang mulia. Jika mereka bercita-cita ingin menjadi manusia yang baik, berbahagia hidup di dunia dan di akhirat, tentulah mereka akan mencontoh dan mengikutinya. Akan tetapi, perbuatan dan tingkah laku mereka menunjukkan bahwa mereka tidak mengharapkan keridaan Allah dan segala macam bentuk kebahagiaan hakiki itu. Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
Artinya: Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah SWT. (QS Al-Ahzab:21)
Berbicara mengenai adab dan ilmu, sebagian orang mungkin sudah sangat familiar dengan pepatah atau kata mutiara arab yang mengatakan, 'Belajar di waktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar diwaktu kecil bagaikan mengukir di atas air'. Begitulah Pepatah Arab mengatakan, berikut keterangan yang berbahasa arab:
التعلم في الصغر كالنقص على الحجر
“Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.”
Kaidah diatas menyebutkan Bahwa belajarlah dan tuntutlah ilmu sebanyak-banyaknya, bertawadhulah ketika punya banyak ilmu, karena adab lebih mulia daripada ilmu. Hafalkan dan pahami ilmu apa yang perlu untuk dihafal dan dipahami, jaga dengan baik melalui ingatan kita dan rawat sebaik mungkin. Maka dengan begitu, akan tumbuh hal-hal baik yang selalu menyertai kita.
Karya monumental termasyhur al-Zarnuji adalah Ta’lim al-Muta’allim Tariq al-Ta’allum, sebuah kitab yang bisa dinikmati dan dijadikan rujukan hingga sekarang. Seorang orientalis M Plessner mengatakan bahwa kitab Ta’lim al-Muta’allim adalah salah satu karya al-Zarnuji yang masih tersisa. Plessner menduga kuat bahwa al-Zarnuji memiliki karya lain, tetapi banyak hilang, karena serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan terhadap kota Baghdad pada tahun 1258 M. Lanjut, berbicara tentang adab jauh lebih mulia dari pada ilmu dalam kitab Ta'lim Muta'allim diterangkan bahwasanya:
فلما رأيت كثيرا من طلاب العلم فى زماننا يجدون إلى العلم ولايصلون ومن منافعه وثمراته ـ وهى العمل به والنشر ـ يحرمون لما أنهم أخطأوا طريقه وتركوا شرائطه، وكل من أخطأ الطريق ضل، ولاينال المقصود قل أو جل، فأردت وأحببت أن أبين لهم طريق التعلم على ما رأيت فى الكتب وسمعت من أساتيذى أولى العلم والحكم
Artinya: "Tatkala aku melihat banyak dari para penuntut ilmu pada masa kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, namun tidak dapat mencapai hasilnya. Di antara manfaat dan buah ilmu adalah mengamalkan ilmu dan menyebarkannya. Mereka terhalang (dari ilmu) sebab kesalahan dalam metode mencari ilmu, dan mereka meninggalkan syarat-syaratnya. Sedangkan setiap orang yang salah jalan maka akan tersesat, dan tidak mendapat sesuatu yang ia inginkan sedikit ataupun banyak. Maka aku ingin menjelaskan kepada mereka tata cara belajar berdasarkan yang telah aku lihat dan dengar dari guru-guruku yang memiliki ilmu dan hikmah". (Imam al-Zarnûji, Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum, halaman 57).
Sebagai penegasan, menurut Ketua Tanfidziyah PCNU Kabupaten Brebes KH Sholahuddin Masruri dalam suatu kesempatan beliau berpesan bahwa jadilah santri itu yang menjadi santri sebagai mediator bukanlah provokator, sebab kalau santri menjadi provokator ketika datang di perguruan tinggi atau pesantren maka yang ada hanyalah pintar saja, maka yang harus dicari dari santri adalah menjadi benar dengan mengedepankan akhlakul karimah.
Semoga ringkasan ini menjadi refleksi bagi para santri sebagaimana mampu merespon berbagai fenomena radikalisasi yang santer berhembus di kalangan masyarakat belakangan ini, yang paling banyak menjadi korbannya adalah dari kalangan pelajar ataupun santri, semoga kultur pesantren yang terus menerapkan unggah ungguh dan sopan santun sebagai ciri khasnya akan terus lestari sampai kapanpun dan dimasa yang akan datang. Wallahu A’lam Bis Showwab
Penulis: A’isy Hanif Firdaus, S.Ag. (Pengurus LTN PCNU Brebes)
