Idul Adha dan Esensi Menyembelih Hewan Kurban

By Admin NU Brebes 30 Jun 2023, 14:29:02 WIB Dunia Islam
Idul Adha dan Esensi Menyembelih Hewan Kurban

Keterangan Gambar : (Foto: ilustrasi)


Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin terdapat 2 Hari raya besar bagi umat Islam di seluruh dunia, Idhul Fitri dan Idul Adha.  jika Idul fitri dilaksanakan dengan sebelumnya berpuasa 30 hari di bulan Ramadhan, maka Idul adha adalah hari raya yang di peringati pada bulan Dzulhijjah atau biasa disebut sebagai bulan Haji,Dimana jutaan orang muslim di seluruh dunia berbondong-bondong melaksanakan rukun Islam ke-5 yakni Beribadah Haji di Baitullah. Dan dari salah satu yang khas dari bulan tersebut adalah penyembelihan hewan kurban. Dan dalam tulisan ringkas ini akan dijelaskan pengertian, hukum dan keutamaan berkurban.  


Pengertian
Kata kurban
jika di tinjau menurut etimologi berasal dari bahasa Arab yakni qariba – yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan, yang berarti dekat (Lihat keterangan: Ibn Manzhur: 1992:1: 662; Munawir: 1984: 1185). Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Kemudian yang dimaksud dari kata kurban yang digunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, dalam istilah agama disebut “udhhiyah” bentuk jamak dari kata “dhahiyyah” yang berasal dari kata “dhaha” (waktu dhuha), yaitu sembelihan di waktu dhuha pada tanggal 10 sampai dengan tanggal 13 bulan Dzulhijjah. Dari sini muncul istilah Idul Adha. Sedangkan jika diuraikan dari segi pengertian syara, Kurban ialah menyembelih hewan dengan tujuan beribadah kepada Allah pada hari raya haji atau Idul Adha dan tiga hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah.    

 

Baca Lainnya :

Dalam Islam, kurban telah dicontohkan bahkan sejak zaman sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Adalah Nabi Ibrahim Alaihi Salam yang memberikan teladan tentang bagaimana kurban harus dilakukan. Ketika Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelih putranya, Ismail AS, maka perintah itu dilakukan sepenuh hati. Kerelaan beliau sudah teruji. Begitu pun dengan Nabi Ismail. Allah SWT pun berkehendak, Ismail AS yang akan disembelih, terganti tiba-tiba dengan seekor kambing. Itulah awal mula disyariatkannya ibadah kurban bagi umat Islam. Maka Teladan Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS itu mengajarkan kepada kita tentang makna ikhlas. Kedua utusan Allah SWT itu menunjukkan bahwa segalanya adalah milik-Nya. Semua itu adalah amanah, yang kepada-Nya juga akan kembali. Islam juga mengajarkan umatnya agar berjiwa rela berkurban apa saja demi bertakwa kepada Allah Ta’ala. Maka, ibadah yang berlangsung kala Idul Adha ini hendaknya dipahami sebagai ajang melatih keikhlasan diri. Tentunya, kualitas demikian tak cukup dengan simbolisme belaka, semisal menyembelih hewan kurban, apalagi dengan kehendak riya di hadapan manusia.

 

 

Menyembelih Hewan Kurban adalah keutamaan dan menjadi suatu sunah Rasul yang syarat dengan hikmah dan banyak pelajaran yang dapat kita ambil sebagai hikmah. Hal ini didasarkan atas beberapa haditst Nabi Muhammad Shallallâhu Alaihi Wasallam, sebagai berikut


عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا


Artinya: Aisyah menuturkan dari Rasulullah Shallallâhu Alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda: Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam (manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya, bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk melakukannya. (Hadits Hasan, riwayat Al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah: 3117) 

 

Manfaat Berkurban di Hari Idul Adha diantaranya:

Sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

 

Kurban merupakan salah satu ibadah yang dijalankan sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam surat Al-Kautsar ayat 2 Allah SWT berfirman:

فَصَلِّلِرَبِّكَوَانْحَرْۗ٢

Artinya: "Maka, laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah!"


 

Belajar untuk ikhlas

Dari ibadah kurban yang dituntut adalah keikhlasan dan ketakwaan, itulah yang dapat menggapai ridha Allah. Daging dan darah itu bukanlah yang dituntut, namun esensinya adalah dari keikhlasan dalam berkurban. Allah Ta’ala berfirman,

 

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

Artinya:Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)

 

Ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Disamping itu, kurban juga berarti menghilangkan beberapa hal yang kurang baik dalam diri manusia, diantaranya: sikap egoisme, nafsu serakah, dan sifat individual dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, maka diharapkan seseorang akan memaknai hidupnya lebih baik untuk mencapai ridha Allah Ta’ala. ‘’mengkorbankan” segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah wujud daging atau darah hewan yang dikurbankan, akan tetapi melainkan ketakwaan dan ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang akan sampai kepada-Nya.  

 

Demikian penjelasan ringkas diatas semoga menjadi renungan bagi kita semua sebagai umat islam dan warga Nahdliyin yang telah dengan ikhlas memberikan kelebihan harta untuk menjalankan ibadah kurban baik di Tahun ini maupun telah lampau. Apalagi hewan atau daging tersebut diberikan kepada orang-orang dan kalangan yang memang jarang makan daging. 

 

Semoga segala hajat dan keimanan kita terus meningkat dengan terus mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aaamiin

Wallahu a’lam.

 

Editor: A’isy Hanif Firdaus 




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment