Idul Adha dan Esensi Menyembelih Hewan Kurban

Keterangan Gambar : (Foto: ilustrasi)
Islam sebagai agama Rahmatan Lil Alamin terdapat 2 Hari raya besar bagi umat Islam di seluruh dunia, Idhul Fitri dan Idul Adha. jika Idul fitri dilaksanakan dengan
sebelumnya berpuasa 30 hari di bulan Ramadhan, maka Idul adha adalah hari raya
yang di peringati pada bulan Dzulhijjah atau biasa disebut sebagai bulan Haji,Dimana jutaan
orang muslim di seluruh dunia berbondong-bondong melaksanakan rukun Islam ke-5
yakni Beribadah Haji di Baitullah. Dan dari salah satu
yang khas dari bulan tersebut adalah penyembelihan hewan kurban. Dan dalam tulisan ringkas ini
akan dijelaskan pengertian, hukum dan keutamaan berkurban.
Pengertian
Kata kurban jika di
tinjau menurut etimologi berasal dari bahasa Arab yakni qariba
– yaqrabu – qurban wa qurbanan wa qirbanan,
yang berarti dekat (Lihat keterangan: Ibn Manzhur: 1992:1: 662; Munawir:
1984: 1185). Maksudnya yaitu mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dengan mengerjakan sebagian perintah-Nya. Kemudian yang
dimaksud dari kata kurban yang digunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari,
dalam istilah agama disebut “udhhiyah” bentuk jamak dari kata “dhahiyyah”
yang berasal dari kata “dhaha” (waktu dhuha), yaitu sembelihan di waktu
dhuha pada tanggal 10 sampai dengan tanggal 13 bulan Dzulhijjah. Dari sini muncul
istilah Idul Adha. Sedangkan jika diuraikan dari segi pengertian syara, Kurban ialah
menyembelih hewan dengan tujuan beribadah kepada Allah pada hari raya haji atau
Idul Adha dan tiga hari Tasyriq, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah.
Baca Lainnya :
- Nahdliyin Masjid Baiturohim Jagalempeni, Selenggarakan Kurban 0
- Ribuan Warga Nahdliyin turut hadiri dan hantarkan prosesi pemakaman KH Aminuddin Masyhudi 0
- Menggagas Gerakan Santun Politik dari Desa Melalui Edukasi Politik0
- Innalilahi, KH Aminudin Masyhudi Mustasyar PCNU Brebes Wafat0
- Puasa Tarwiyah dan Arafah, Ini Keutamaan serta Lafal Niat yang Dibaca0
Dalam Islam, kurban telah dicontohkan bahkan sejak zaman sebelum Nabi Muhammad SAW lahir. Adalah Nabi Ibrahim Alaihi Salam yang memberikan teladan tentang bagaimana kurban harus dilakukan. Ketika Allah SWT memerintahkannya untuk menyembelih putranya, Ismail AS, maka perintah itu dilakukan sepenuh hati. Kerelaan beliau sudah teruji. Begitu pun dengan Nabi Ismail. Allah SWT pun berkehendak, Ismail AS yang akan disembelih, terganti tiba-tiba dengan seekor kambing. Itulah awal mula disyariatkannya ibadah kurban bagi umat Islam. Maka Teladan Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS itu mengajarkan kepada kita tentang makna ikhlas. Kedua utusan Allah SWT itu menunjukkan bahwa segalanya adalah milik-Nya. Semua itu adalah amanah, yang kepada-Nya juga akan kembali. Islam juga mengajarkan umatnya agar berjiwa rela berkurban apa saja demi bertakwa kepada Allah Ta’ala. Maka, ibadah yang berlangsung kala Idul Adha ini hendaknya dipahami sebagai ajang melatih keikhlasan diri. Tentunya, kualitas demikian tak cukup dengan simbolisme belaka, semisal menyembelih hewan kurban, apalagi dengan kehendak riya di hadapan manusia.
Menyembelih Hewan Kurban adalah keutamaan dan
menjadi suatu sunah Rasul yang syarat dengan
hikmah dan banyak
pelajaran yang dapat kita ambil sebagai hikmah.
Hal ini didasarkan atas beberapa haditst Nabi Muhammad Shallallâhu
Alaihi Wasallam, sebagai berikut:
عَنْ
عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا
عَمِلَ آدَمِيٌّ مِنْ عَمَلٍ يَوْمَ النَّحْرِ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ
إِهْرَاقِ الدَّمِ إِنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا
وَأَشْعَارِهَا وَأَظْلَافِهَا وَأَنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ
قَبْلَ أَنْ يَقَعَ مِنْ الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا
Artinya: Aisyah menuturkan dari Rasulullah Shallallâhu Alaihi Wasallam
bahwa beliau bersabda: Tidak ada suatu amalan yang dikerjakan anak Adam
(manusia) pada hari raya Idul Adha yang lebih dicintai oleh Allah dari
menyembelih hewan. Karena hewan itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk-tanduknya,
bulu-bulunya, dan kuku-kuku kakinya. Darah hewan itu akan sampai di sisi Allah
sebelum menetes ke tanah. Karenanya, lapangkanlah jiwamu untuk
melakukannya. (Hadits Hasan, riwayat Al-Tirmidzi: 1413 dan Ibn Majah:
3117)
Manfaat Berkurban di Hari Idul Adha diantaranya:
Sarana mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Kurban merupakan salah satu ibadah yang dijalankan sebagai sarana
untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dalam surat Al-Kautsar ayat 2 Allah
SWT berfirman:
فَصَلِّلِرَبِّكَوَانْحَرْۗ٢
Artinya: "Maka, laksanakanlah sholat karena Tuhanmu dan
berkurbanlah!"
Belajar untuk ikhlas
Dari ibadah kurban yang dituntut adalah keikhlasan dan ketakwaan,
itulah yang dapat menggapai ridha Allah. Daging dan darah itu bukanlah yang
dituntut, namun esensinya adalah dari keikhlasan dalam berkurban. Allah
Ta’ala berfirman,
لَنْ يَنَالَ
اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ
Artinya:“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya.” (QS. Al Hajj: 37)
Ibadah kurban yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha sampai
hari tasyrik, tiada lain bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Disamping
itu, kurban juga berarti menghilangkan beberapa hal yang kurang baik dalam diri
manusia, diantaranya: sikap egoisme, nafsu serakah, dan
sifat individual dalam diri seorang muslim. Dengan berkurban, maka diharapkan
seseorang akan memaknai hidupnya lebih baik untuk mencapai ridha Allah Ta’ala. ‘’mengkorbankan”
segalanya (jiwa, harta, dan keluarga) hanya untuk-Nya. Oleh karena itu, pada
hakikatnya, yang diterima Allah dari ibadah kurban itu bukanlah wujud daging
atau darah hewan yang dikurbankan, akan tetapi melainkan ketakwaan dan
ketulusan dari orang yang berkurban, itulah yang akan sampai kepada-Nya.
Demikian penjelasan ringkas diatas semoga menjadi renungan bagi
kita semua sebagai umat islam dan warga Nahdliyin yang telah dengan ikhlas memberikan
kelebihan harta untuk menjalankan ibadah kurban baik di Tahun ini maupun telah
lampau. Apalagi hewan atau daging tersebut diberikan kepada
orang-orang dan kalangan yang memang jarang makan daging.
Semoga segala hajat dan keimanan kita terus
meningkat dengan terus mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Aaamiin
Wallahu a’lam.
Editor: A’isy Hanif Firdaus
