Perdana, PCNU Brebes Gelar Lailatul Ijtima, Sebagai Penguatan Antar Pengurus Lembaga, Badan Otonom

By Admin NU Brebes 15 Agu 2023, 23:33:22 WIB Daerah
Perdana, PCNU Brebes Gelar Lailatul Ijtima, Sebagai Penguatan Antar Pengurus Lembaga, Badan Otonom

Brebes, nubrebes.or.id - Pengurus Cabang Nahdatul Ulama (PCNU)  Brebes mengadakan kegiatan  Lailatul Ijtima yang bertempat di gedung NU Jl. Yos Soedarso no. 36 Brebes. Sabtu, (12 /8/2023)

 

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Pengurus Cabang NU Brebes, Ketua Tanfidziyah K.H. Sholahuddin Masruri Mugni dan Rais Syuriah K.H. Hudallah Karim  serta  lembaga dan badan otonom yang ada di NU.

Baca Lainnya :

 

Acara lailatul Ijtima' dengan tema "Merawat Jagad Membangun Peradaban." dimulai dengan pembacaan istighosah yang dipimpin oleh Gus Sholah, panggilan akrab ketua Tanfidziyah. Sekaligus pemberian ijasah istighosah khusus untuk pengurus cabang NU Brebes.




Dalam lailatul ijtima K.H. Hudallah selaku rois syuriah menyampaikan kepada semua pengurus  agar mau bergerak bersamama-sama demi masa depan NU yang ada di Brebes, menguatkan program yang telah ditetapkan satu sama yang lainnya, memiliki sinergitas yang tinggi agar selalu eksis dalam membangun jam'iyah. Bergerak bersama pula untuk saling tolong-menolong dan meningkatkan nilai-nilai ketaqwaan.

 

Gus Huda mengingatkan dalam tausiyahnya, bahwa NU adalah organisasi keagamaan, sehingga titik beratnya dalam kegiatan adalah  memperjuangkan berjalannya akidah Ahlusunnah Waljamaah  an-Nahdiyah. 

 

Tidak ketinggalan pula, kata beliau, karena warga NU, banyak yang bergerak dalam dunia pertanian, pendidikan, kesehatan maka NU tidak bisa lepas untuk membantu persoalan yang dibutuhkan oleh umatnya.Tidak ketinggalan pula penataan aset dan managerial organisasi dengan baik.

 

Ada hal lain yang rois syuriah tekankan pada lailatul ijtima perdana ini. Beliau mengatakan dengan keras, NU jangan di serat pada politik praktis, walaupun pengurusnya ada yang aktif dalam partai politik tertentu.

 

Ketika ada  pendapat bahwa "Agama dan kekuasaan laksana suadara kembar" oleh karena itu kami minta sekali lagi, kata rois sruriah, bahwa di NU Cabang Brebes yang paling bertanggungjawab adalah pengurus harian. Maka Jadikan ditahun politik ini, NU Brebes menjadi kabupaten yang sejuk dan damai sehingga dapat dijadikan contoh pada kabupaten lain.

 

Saya selaku rois syuriah, menyadari bahwa agama berjalan dengan baik tidak bisa lepas dari penguasa yang baik.  Sebaliknya kalau kegiatan beragama tidak baik maka negara akan mengalami kesulitan menjadi baik.

 

Marih kita renungkan bersama, Negara Indonesia aman dan tentram saja, kita masih belum mampu khusu' dalam sholatnya apalagi kalau kondisi tidak aman. Mungkin akan lebih tidak khusu lagi.

 

Kita ini, menurut K.H. Hudallah kadang sering latah, merasa dalam setiap doanya tidak dikabulkan atau tidak diberi apa-apa oleh Allah Swt.  Padahal sebelum berdoa kita sudah diberi jutaan nikmat,

tanpa kita minta. Oleh karena itu saat dikasih nikmat maka yang harus dilakukan adalah mengucapkan terimakasih pada  Dzat pemberi nikmat, Allah SWT dengan cara mengerjakan sholat sebagai salah wujud taat akan perintah-Nya.

 

K.H. Hudallah kembali menasehati pada peserta yang hadir di lailatul Ijtima untuk menjadikan NU sebagai thoriqoh, agar masa depan kita mampu mengamalkan Islam yang tidak terkontaminasi dengan bekerja lain. Sebagaimana  dalam ber NU juga sama.

 

Kebahagiaan dalam menjalankan roda  jam'iyah, harus mampu diwujudkan   secara lahir dan batin sesuai dengan fitrah manusia. Arti sebuah kelanggengan yang  dapat melahirkan keturunan,  bukan pernikahan yang sejenis, yang jelas tidak akan melahirkan generasi berikutnya.

 

NU hadir ditengah-tengah umat supaya masyarakat tertib, damai baik secara dhohir dan batin, tidak saling merendahkan. Tetapi mampu mengangkat ruhaniah pada tingkatan yang lebih tinggi lagi.

 

Menjadi pengurus NU adalah bagaikan mukodam, panjang tangan dari para muassis, sebagai mursyid utamannya. oleh karena itu, K.H. Hudallah menegaskan dengan jelas, agar semua pengurus memiliki ketaatan dan loyalitas ketika berkhidma di NU, agar berbuah barokah yang sangat luar biasa. Beliaupun mengingatkan, bahwa  kita yang butuh NU, bukan NU yg butuh kita. Mari berkhidmah dengan cara murni.

 

Menurut K.H. Huda, NU telah berjasa memberi kebahagian lahir batin. Maka sangat wajar bila kemampuan yang kita miliki untuk NU,  barokahnyapun nanti akan kembali pada kita,  biarlah NU akan memberi barokah pada kita semua.

 

Hayoooo bekerja lebih giat untuk NU, kalaupun ada gesekan dalam beroganisasi di NU, maka solusi yang tepat untuk kita rubah adalah "Dari Gegeran Menjadi Gergeran." Imbuh Rois Syuriah disambut tawa pengurus yang memenuhi gedung NU tersebut.

 

Ketika kita sudah masuk dalam pengurus maka harus bekerja keras dan menjaganya. NU akan tetap satu komando. Secara perorangan bagi warga NU, kami persilahkan untuk berpolitik namun pengurus jangan, imbuhnya. diakhir tausiyah yang beliau sampaikan.

 

Pada kesempatan yang sama K.H. Sholahudin Masyruri selaku ketua Tanfidziyah dalam sambutannya menyampaikan kegiatan lailatul ijtima sebagai wujud untuk saling mengingatkan dan muhasabah, beristoghosah kepada Allah Swt agar apapun yang terjadi dengan NU kita mampu untuk meredamnya.

 

Lailatul ijtima kali ini supaya kita mendapatkan  ketentraman di tahun politik dan menjadi suri tauladan pada kabupaten lain.  NU merupakan jam'iyah gerakan keumatan, agar umatnya damai dan tentram, pengurus dan juga keluarganya, serta berkah rizkinya. Sebab salah satu didirikannya NU atas dasar khikmahtul Ummah.

 

Para pengurus harus faham akan Manhaj (kaidah-kaidah & ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi setiap pelajaran ilmiah melalui proses penelusuran (sanad) ilmu-ilmu Islam dengan alur riwayat yang benar yang bersambung sampai kepada Nabi Muhammad).

 

Munculnya banyak gerakan islam yang mengatasnakamakan Aswaja, maka dalam NU adalah prinsip Aswaja An-Nahdiyah. Sebagai identitas diri yang berbeda dengan aswaja lainnya. Sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Muktamar NU yang ke-33 di Jombang pada tahun 2015.

 

Gus Sholah dalam sambutanya juga menjelaskan, NU didirikan di pondok pesantren yang memiliki manhaj dan harakah yang jelas pula, menjunjung nilai-nilai etika yang tinggi, sebagai mana diajarkan oleh para pendiri NU sendiri, yang telah dituangkan dalam adabul alim wal muta'alim (etika dalam menuntut ilmu dan cara mengajarkannya). Hal ini dituntut bahwa lembaga pendidikan ma'arif tidak hanya lembaga formal semata namun dituntut untuk menanamkan nilai-nilai an-Nahdiyah. Serta mengajarkan bagaimana antara murid dan guru menyatu.

 

NU memiliki etika politik, dakwah dan kebangsaan yang benar sehingga tidak ada ujaran kebencian dalam menjalankan gerakan amanah kaum nahdiyin.  Ada istilah dalam bahasa jawa "Ngono Yo Ngono Ning Aja Ngono." (begitu ya begitu, tapi jangan begitu juga). Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa dalam melakukan sesuatu itu ada batasnya. Mudah-mudahan pengurus yang hadir mampu menjalankan amanahnya. Aamin.

 

Adapun dalam lailutul ijtima dipaparkan pula program unggulan PCNU Brebes yang di sampaikan oleh Sekretaris NU H. Zainuddin di depan para pengurus, lembaga dan badan otonom NU yang hadir.

 

Beliau mengatakan ada 7 (tujuh)  program unggulan yang dimiliki oleh PCNU Brebes, Pertama koin NU berbasis ranting sebagai sumber pendanaan harakah perkumpulan NU, dengan mendirikan Upzis Lazisnu sampai tingkat ranting.

 

Kedua, akselerasi penyertifikatan aset perkumpulan NU dan lembaga yang berafiliasi dengan NU. Hal ini dilakukan untuk pendataan aset NU sekaligus program sertifikasi aset NU dan managemen Ikrar Wakaf.

 

Ketiga, melaksanakan program pengkaderan melalui kegiatan PKPNU, yang dilaksanakan oleh MWC Tanjung, Bumiayu, Bantarkawung, Salem,  Jatibarang,  Losari, Banjarharjo,  Bulakamba, dan Wanasari. Serta penguatan lembaga pendidikan maarif dan perguruan tinggi yang meliputi; manajemen ma’arif,

penataan badan hukum, penataan rekrutmen guru dan Kepala Sekolah/Madrasah, kurikulum aswaja dan merintis badan pelaksana penyelenggara perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (persiapan UNU Brebes)

 

Keempat, penguatan ekonomi, meliputi data base pelaku usaha wong NU, mendirikan lembaga koperasi untuk mengembangkan jaringan market kebutuhan (lembaga pendidikan, pondok pesantren dan produk pertanian dan perkebunan)

Kelima, pemberdayaan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Meliputi; membuat data base tenaga kesehatan, merintis berdirikan yayasan kesehatan NU, merintis berdirinya layanan kesehatan 3 Klinik Pratama (Alternatif di Tonjong, Sirampog, Salem, Brebes, Larangan dan Banjarharjo)

 

Keenam, Manajenem organisasi dan kesekretariatan, dengan mengembangkan media center, pendataan warga NU berbasis SISNU dan kartanu, penguatan SIPNU di MWC dan Ranting.

 

Ketujuh, pemberdyaan keagamaan, dengan kegiatan mengintensipkan Lembaga Masul Masail (LBM) mengangkat tema kedaerahan/Lokal dengan keterlibatan ponpes dan pihak terkait, menginfentarisir dan mengakselerasi penyertifikatan masjid, mushola, majelis taklim, Ponpes, madrasah dan lembaga yang berafiliasi dengan NU.

 

Pengirim: H.Lukman Nur Hakim

Editor: A’isy Hanif Firdaus




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment