Perdana, PCNU Brebes Gelar Lailatul Ijtima, Sebagai Penguatan Antar Pengurus Lembaga, Badan Otonom

Brebes, nubrebes.or.id - Pengurus Cabang
Nahdatul Ulama (PCNU) Brebes mengadakan
kegiatan Lailatul Ijtima yang bertempat
di gedung NU Jl. Yos Soedarso no. 36 Brebes. Sabtu, (12 /8/2023)
Kegiatan tersebut
dihadiri oleh Pengurus Cabang NU Brebes, Ketua Tanfidziyah K.H. Sholahuddin Masruri
Mugni dan Rais Syuriah K.H. Hudallah Karim
serta lembaga dan badan otonom
yang ada di NU.
Baca Lainnya :
- PCNU Brebes Melepas Kontingan PERSIMANU 1 Jawa Tengah0
- Ketum PBNU Tegaskan Hindari Konflik : Semua Orang Bertanggung Jawab Upayakan Kehidupan Harmonis0
- Ribuan Warga Nahdliyin turut hadiri dan hantarkan prosesi pemakaman KH Aminuddin Masyhudi 0
- Innalilahi, KH Aminudin Masyhudi Mustasyar PCNU Brebes Wafat0
- Menggali khazanah keilmuan KH Shihabudin Tahmid Jagalempeni-Wanasari, Santri KH Hasyim Asyari0
Acara lailatul Ijtima' dengan tema "Merawat Jagad Membangun Peradaban." dimulai dengan pembacaan istighosah yang dipimpin oleh Gus Sholah, panggilan akrab ketua Tanfidziyah. Sekaligus pemberian ijasah istighosah khusus untuk pengurus cabang NU Brebes.
Dalam lailatul ijtima
K.H. Hudallah selaku rois syuriah menyampaikan kepada semua pengurus agar mau bergerak bersamama-sama demi masa
depan NU yang ada di Brebes, menguatkan program yang telah ditetapkan satu sama
yang lainnya, memiliki sinergitas yang tinggi agar selalu eksis dalam membangun
jam'iyah. Bergerak bersama pula untuk saling tolong-menolong dan meningkatkan
nilai-nilai ketaqwaan.
Gus Huda mengingatkan
dalam tausiyahnya, bahwa NU adalah organisasi keagamaan, sehingga titik
beratnya dalam kegiatan adalah
memperjuangkan berjalannya akidah Ahlusunnah Waljamaah an-Nahdiyah.
Tidak ketinggalan pula,
kata beliau, karena warga NU, banyak yang bergerak dalam dunia pertanian,
pendidikan, kesehatan maka NU tidak bisa lepas untuk membantu persoalan yang
dibutuhkan oleh umatnya.Tidak ketinggalan pula penataan aset dan managerial
organisasi dengan baik.
Ada hal lain yang rois
syuriah tekankan pada lailatul ijtima perdana ini. Beliau mengatakan dengan
keras, NU jangan di serat pada politik praktis, walaupun pengurusnya ada yang
aktif dalam partai politik tertentu.
Ketika ada pendapat bahwa "Agama dan kekuasaan
laksana suadara kembar" oleh karena itu kami minta sekali lagi, kata rois
sruriah, bahwa di NU Cabang Brebes yang paling bertanggungjawab adalah pengurus
harian. Maka Jadikan ditahun politik ini, NU Brebes menjadi kabupaten yang
sejuk dan damai sehingga dapat dijadikan contoh pada kabupaten lain.
Saya selaku rois
syuriah, menyadari bahwa agama berjalan dengan baik tidak bisa lepas dari
penguasa yang baik. Sebaliknya kalau
kegiatan beragama tidak baik maka negara akan mengalami kesulitan menjadi baik.
Marih kita renungkan
bersama, Negara Indonesia aman dan tentram saja, kita masih belum mampu khusu'
dalam sholatnya apalagi kalau kondisi tidak aman. Mungkin akan lebih tidak
khusu lagi.
Kita ini, menurut K.H. Hudallah
kadang sering latah, merasa dalam setiap doanya tidak dikabulkan atau tidak
diberi apa-apa oleh Allah Swt. Padahal
sebelum berdoa kita sudah diberi jutaan nikmat,
tanpa kita minta. Oleh
karena itu saat dikasih nikmat maka yang harus dilakukan adalah mengucapkan
terimakasih pada Dzat pemberi nikmat,
Allah SWT
dengan cara mengerjakan sholat sebagai salah wujud taat akan perintah-Nya.
K.H. Hudallah kembali
menasehati pada peserta yang hadir di lailatul Ijtima untuk menjadikan NU
sebagai thoriqoh,
agar masa depan kita mampu mengamalkan Islam yang tidak terkontaminasi dengan
bekerja lain. Sebagaimana dalam ber NU
juga sama.
Kebahagiaan dalam
menjalankan roda jam'iyah, harus mampu
diwujudkan secara lahir dan batin
sesuai dengan fitrah manusia. Arti sebuah kelanggengan yang dapat melahirkan keturunan, bukan pernikahan yang sejenis, yang jelas
tidak akan melahirkan generasi berikutnya.
NU hadir
ditengah-tengah umat supaya masyarakat tertib, damai baik secara dhohir dan
batin, tidak saling merendahkan. Tetapi mampu mengangkat ruhaniah pada
tingkatan yang lebih tinggi lagi.
Menjadi pengurus NU
adalah bagaikan mukodam, panjang tangan dari para muassis, sebagai mursyid
utamannya. oleh karena itu, K.H. Hudallah menegaskan dengan jelas, agar semua
pengurus memiliki ketaatan dan loyalitas ketika berkhidma di NU, agar berbuah
barokah yang sangat luar biasa. Beliaupun mengingatkan, bahwa kita yang butuh NU, bukan NU yg butuh kita.
Mari berkhidmah dengan cara murni.
Menurut K.H. Huda, NU
telah berjasa memberi kebahagian lahir batin. Maka sangat wajar bila kemampuan
yang kita miliki untuk NU, barokahnyapun
nanti akan kembali pada kita, biarlah NU
akan memberi barokah pada kita semua.
Hayoooo bekerja lebih
giat untuk NU, kalaupun ada gesekan dalam beroganisasi di NU, maka solusi yang
tepat untuk kita rubah adalah "Dari Gegeran Menjadi Gergeran." Imbuh
Rois Syuriah disambut tawa pengurus yang memenuhi gedung NU tersebut.
Ketika kita sudah masuk
dalam pengurus maka harus bekerja keras dan menjaganya. NU akan tetap satu
komando. Secara perorangan bagi warga NU, kami persilahkan untuk berpolitik
namun pengurus jangan, imbuhnya. diakhir tausiyah yang beliau sampaikan.
Pada kesempatan yang
sama K.H. Sholahudin Masyruri selaku ketua Tanfidziyah dalam sambutannya
menyampaikan kegiatan lailatul ijtima sebagai wujud untuk saling mengingatkan
dan muhasabah, beristoghosah kepada Allah Swt agar apapun yang terjadi dengan
NU kita mampu untuk meredamnya.
Lailatul ijtima kali
ini supaya kita mendapatkan ketentraman
di tahun politik dan menjadi suri tauladan pada kabupaten lain. NU merupakan jam'iyah gerakan keumatan, agar
umatnya damai dan tentram, pengurus dan juga keluarganya, serta berkah
rizkinya. Sebab salah satu didirikannya NU atas dasar khikmahtul Ummah.
Para pengurus harus
faham akan Manhaj (kaidah-kaidah & ketentuan-ketentuan yang digunakan bagi
setiap pelajaran ilmiah melalui proses penelusuran (sanad) ilmu-ilmu Islam
dengan alur riwayat yang benar yang bersambung sampai kepada Nabi Muhammad).
Munculnya banyak
gerakan islam yang mengatasnakamakan Aswaja, maka dalam NU adalah prinsip
Aswaja An-Nahdiyah. Sebagai identitas diri yang berbeda dengan aswaja lainnya.
Sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Muktamar NU yang ke-33 di Jombang pada
tahun 2015.
Gus Sholah dalam
sambutanya juga menjelaskan, NU didirikan di pondok pesantren yang memiliki
manhaj dan harakah yang jelas pula, menjunjung nilai-nilai etika yang tinggi,
sebagai mana diajarkan oleh para pendiri NU sendiri, yang telah dituangkan dalam
adabul alim wal muta'alim (etika dalam menuntut ilmu dan cara mengajarkannya).
Hal ini dituntut bahwa lembaga pendidikan ma'arif tidak hanya lembaga formal
semata namun dituntut untuk menanamkan nilai-nilai an-Nahdiyah. Serta
mengajarkan bagaimana antara murid dan guru menyatu.
NU memiliki etika
politik, dakwah dan kebangsaan yang benar sehingga tidak ada ujaran kebencian
dalam menjalankan gerakan amanah kaum nahdiyin.
Ada istilah dalam bahasa jawa "Ngono
Yo Ngono Ning Aja Ngono." (begitu ya begitu, tapi jangan begitu juga).
Ungkapan ini mengisyaratkan bahwa dalam melakukan sesuatu itu ada batasnya.
Mudah-mudahan pengurus yang hadir mampu menjalankan amanahnya. Aamin.
Adapun dalam lailutul
ijtima dipaparkan pula program unggulan PCNU Brebes yang di sampaikan oleh
Sekretaris NU
H. Zainuddin di depan para pengurus, lembaga dan badan otonom NU yang hadir.
Beliau mengatakan ada 7 (tujuh) program unggulan yang dimiliki oleh PCNU
Brebes, Pertama
koin
NU berbasis ranting sebagai sumber pendanaan harakah perkumpulan NU, dengan
mendirikan Upzis Lazisnu sampai tingkat ranting.
Kedua,
akselerasi penyertifikatan aset perkumpulan NU dan lembaga yang berafiliasi
dengan NU. Hal ini dilakukan untuk pendataan aset NU sekaligus program
sertifikasi aset NU dan managemen Ikrar Wakaf.
Ketiga,
melaksanakan program pengkaderan melalui kegiatan PKPNU, yang dilaksanakan oleh
MWC Tanjung, Bumiayu, Bantarkawung, Salem,
Jatibarang, Losari, Banjarharjo, Bulakamba, dan Wanasari. Serta penguatan
lembaga pendidikan maarif dan perguruan tinggi yang meliputi; manajemen
ma’arif,
penataan badan hukum,
penataan rekrutmen guru dan Kepala Sekolah/Madrasah, kurikulum aswaja dan merintis
badan pelaksana penyelenggara perguruan tinggi Nahdlatul Ulama (persiapan UNU
Brebes)
Keempat,
penguatan ekonomi, meliputi data base pelaku usaha wong NU, mendirikan lembaga
koperasi untuk mengembangkan jaringan market
kebutuhan (lembaga pendidikan, pondok
pesantren dan produk pertanian dan perkebunan)
Kelima,
pemberdayaan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Meliputi; membuat data
base tenaga kesehatan, merintis berdirikan yayasan kesehatan NU, merintis berdirinya
layanan kesehatan 3 Klinik
Pratama (Alternatif di Tonjong, Sirampog, Salem, Brebes, Larangan dan Banjarharjo)
Keenam, Manajenem organisasi dan
kesekretariatan, dengan mengembangkan media center, pendataan warga NU berbasis
SISNU dan kartanu, penguatan SIPNU di MWC dan Ranting.
Ketujuh, pemberdyaan keagamaan, dengan kegiatan mengintensipkan Lembaga Masul Masail
(LBM) mengangkat tema kedaerahan/Lokal
dengan keterlibatan ponpes
dan pihak terkait, menginfentarisir dan mengakselerasi penyertifikatan masjid, mushola, majelis taklim, Ponpes, madrasah dan lembaga yang berafiliasi dengan NU.
Pengirim: H.Lukman Nur Hakim
Editor: A’isy Hanif Firdaus
