Mutiara Hikmah KH. Subhan Mamun : Modal Mulang Ngaji Dudu Ilmu Mung Siji

Keterangan Gambar : KH. Subhan Mamun (Pengasuh Ponpes Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes)
Judul di atas penulis ambil saat K.H. Subhan Ma'mun menjelaskan tentang kitab yang dibaca dalam setiap mengaji, agar dapat memberi kefahaman pada orang banyak, enak didengar, tidak tegang ataupun menakutkan, dibaca dengan santai, sedikit ada humor sehingga para pendengar (peserta ngaji) merasa nyaman dan senang dalam mengikuti kajiannya.
Mulang ngaji (mengajar) kalau hanya satu disiplin ilmu yang dimiliki untuk menjelaskan dalam setiap materi yang disampaikan maka pembahasan materi tersebut seolah-olah ada yang kurang. Mengaji tidak menjiwai hikmah yang dikandungnyapun sangat terasa hampa tat kala membacanya.
Baca Lainnya :
- Ketua Umum PBNU: Imbau seluruh kader NU mengabdi untuk Indonesia0
- Bentuk Regenerasi Pemimpin, PR IPNU IPPNU Desa Pruwatan 2 Sukses Gelar Rapat Anggota Kedua 0
- Harlah Muslimat NU ke-77 di Brebes, Penyanyi Religi Legendaris Hadad Alwi Ajak Bershalawat0
- Menjelang Konferensi IPNU-IPPNU Jagalempeni : Regenerasi dan Militansi Sebagai Kekuatan Organisasi0
- Apel Siaga Ansor Banser Losari Gus Solah jadi pembina apel0
Sudut pandang dari berbagai disiplin ilmu yang tajam, penjelasan yang komprehensip, dari mulai sisi bahasa (nahwu shorofnya), Ilmu tafsir dan hadits, serta kaidah-kaidah dalam penerapan hukum mewarnai setiap penjelasan kitab yang dikaji, membuat situasi mengaji terasa renyah dalam setiap penjelasan yang disampaikan dan dapat mudah difahami bagi penulis dan para pendengar (mustami') yang ngaji saat itu pada umumnya.
Ngaji kitab Al-Hikam Selasa (19/9/2023) K.H. Subhan Ma'mun memberi gambaran tentang filosopi "Layangan yang turun sendiri akan berbeda dengan layangan yang turun menjadi rebutan."
Ngaji kitab Al-Hikmah pada era sekarang sangat terasa berat, padahal isinya untuk mengajarkan berbagai usaha pada manusia untuk menempuh perjalanan spiritual seseorang.
Ngaji kitab Al-hikam dengan ulasan yang khas oleh K.H. Subhan Ma'mun materi yang dapat dikatakan berat terasa sangat ringan, difahami dengan santai dan kadang sidikit dibuat senyum-senyum sendiri, karena memang sangat sulit untuk menjalankan dan kadang membuat tertawa atas kesalahan sendiri yang pernah dilakukan dari keterangan yang disampaikan oleh K.H. Subhan Ma'mun.
Dengan referensi mengajar kitab Al-Hikam yang sudah berkali-kali di tahun sebelumnya kepada para santri, K.H. Subhan Ma'mun terasa menguasai penuh apa yang ingin disampaikan oleh pengarang kitab tersebut. Sehingga poin-poin nasehat dan usaha spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt, mensyukuri atas nikmat yang diberinya dapat tersampaikan dengan bahasa yang lugas, tegas dan jelas.
Filosofi Layangan Putus
Para kaum laki-laki dapat dikatakan masa anak-anaknya suka dan pernah bermain-main dengan layangan. Apalagi ketika ada layangan yang putus sepertinya wajib hukumnya untuk mengajar layangan tersebut.
Berbagai rintangan ditrabras, kadang kayu milik orang diambil untuk menangkap layangan, namun sebelum berada ditempat layanan jatuh, anak-anak lain sudah berada ditempat menunggu jatuhnya layangan.
Terjadilah rebutan layangan dengan anak-anak lain dengan perlengkapan yang dimiliki. Sehingga dapat diprediksikan sangat sulit bila layangan akan selamat tiba tangan. Alhasil layangan akan sobek, patah kayunya dan menjadi layangan yang terpotong-potong, robekan kertasnyapun berserakan.
Kalaupun saat itu kita sabar agar layangan jatuh dengan sendirinya, maka dipastikan layangan tersebut tidak akan rusak.
Jangan karena terobsesi untuk mendapatkan sesuatu secara gratis, terus menghabiskan seluruh pikiran, tenaga dan waktu. Ternyata setelah menguras energi yang diperoleh hanyalah barang tak berharga .
Ketika kita memiliki cita-cita atau keinginan kemudian putus ditengah jalan, maka kita kadang langsung menyimpulkan cita-cita tersebut sudah "gagal', sehingga berakibat putus asa dan stress.
Padahal kita tidak tahu bahwa perjalanan cita-cita tersebut masih jauh. Ketika layangan (cita-cita) putus maka ikuti dan pantau perjalanan layangan tersebut akan jatuh dimana?. Karena dengan layangan jatuh sendiri maka layangan akan tetap terjaga kondisinya, tidak patah kayunya dan robek.
Begitu pula kalau kita memiliki anggapan cita-citanya telah putus di tengah jalan. Maka jalani kehidupannya dengan mengalir kemana kaki akan melangka. Dengan sendirinya nanti kita akan menemukan kehidupan yang sesuai dengan apa yang di cita-citakannya.
Berjuang belum berhasil, bagaikan layangan putus, mata tunggulah lanyang tersebut sampai turun sendiri maka layangan tidak akan sobek dan rusak.
Dalam kehidupan sehari-hari jalani hidup penuh dengan rasa bersyukur. Melaksanakan sholat sunnah dan puasa sunnah dalam rangka mensyukuri apa yang telah diberi oleh Allah Swt.
Tidak ada kesombongan terhadap benda-benda yang dimiliki, seperti motor, mobil dan lainnya. Apa yang dimiliki dalam rangka untuk mensyukuri nikmat Allah Swt. Sebaliknya kalau sesuatu dilakukan dengan kesombongan maka akan berakibat mendapat cercaan dari orang lain.
Jangan mengejar layangan yang putus, tunggu saja sampai layangan jatuh sendiri. Suatu waktu semua impian akan jadi kenyataan atas usaha dan doa yang kita lakukan. Kerja keraslah dan jangan pernah menyerah, tetap fokus dan konsisten terhadap pilihan hidup yang dijalani.
Wallahu A'lam bishowab.
Penulis : H. Lukman Nur Hakim, M. Pd. (Ketua LTNNU Brebes) 20/9/2023
