Gus Yahya mengajak Santri meniru Kiai dedikasi diri secara total terhadap Ilmu

Keterangan Gambar : (Foto: TVNU)
Bantul, DIY - nubrebes.or.id - Ketua
Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf hadir dan
mengajak santri agar bisa meniru para kiai-kiai terdahulu dalam upaya
mendedikasikan diri secara total terhadap ilmu.
“Kiai-kiai
kita dulu itu sejak muda memang mencurahkan dedikasinya secara total kepada
ilmu. Maka santri-santri hari ini seharusnya juga harus lebih terpacu, karena
masa depan itu pada hari ini datangnya lebih cepat,” ucap
Gus Yahya saat menghadiri peluncuran kamus Al-Munawwir versi digital di Komplek
Q Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Bantul, Yogyakarta, Sabtu malam (23/12/2023).
“Nah sekarang saya melihat santri-santri zaman
sekarang ini di usia segitu belum bisa apa-apa. Ini jangan sampai
diterus-teruskan, supaya tidak ada gejala kemerosotan di dalam dedikasi ilmiah
dari santri-santri,” tambah Gus Yahya
Baca Lainnya :
- Khutbah Jumat Bulan Jumadal Akhirah: Panduan Islam agar Sukses menjadi Pemimpin0
- Penyerahan Bantuan dari LAZISNU PCNU Brebes untuk Para Korban Terdampak Gempa Bumi Salem0
- Telah resmi dikukuhkan, Baritim PC GP Ansor Brebes siap jaga laut Brebes0
- NU Brebes Sebut Pengkaderan di Internal NU untuk Tingkatkan Kapasitas Anggota0
- Dua Anggota PCINU Taiwan ikuti kegiatan PD-PKPNU di Losari Brebes0
Gus Yahya melanjutkan zaman dahulu banyak kiai yang di usia muda
mereka sudah menghasilkan banyak tulisan dan karya, seperti KH MA Sahal Mahfudh
dari Kajen Pati dan KH A Warson Munawwir dari Krapyak.
“Mbah Sahal itu pernah menulis kitab Faidhul Hija saat usia beliau sekitar 25
tahun, isinya luar biasa. Ketika saya baca, masyaallah, kitab itu sembarang
dimasukkan, mulai dari tafsir, ushul, nahwu, sharaf, sampai arudh itu
dimasukkan semua di kitab karangan Mbah Sahal itu. Bahkan beliau dipuji-puji
oleh Kiai Zubair, ayahnya Kiai Maimoen,” ucap Pengasuh Pondok Pesantren
Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang.
“Jadi saya melihat kiai-kiai kita ini sejak usia yang masih sangat muda
sudah mencapai kapasitas keilmuan yang exellent. Contoh lain adalah Mbah Warson
yang mulai menulis kamus Al-Munawwir di usia 25 tahun,” ungkap Gus Yahya
Gus Yahya menyebut, saat ini kebiasaan membaca buku, muthola'ah kitab ini belum
cukup berkembang. “Sementara sekarang kita sudah pindah pada
platform-platform digital, dan santri-santri tiba-tiba harus berhadapan dengan
kenyataan-kenyataan baru seperti ini,”
“Nah
maka saya kira ini harus menjadi momentum yang memacu gairah dari santri-santri
kita ini untuk menekuni ilmunya,” pungkas Gus Yahya (sumber: NUOnline)
___
editor: A’isy Hanif Firdaus
